Bagian Keempat: Strategi
Waktu gue pingsan, gue nggak nyadar. Bego.
Maksud gue, gue nggak nyadar kalo gue pingsan. Cih, bego lagi.
Satu hal yang nggak gue ngerti. Pas gue sadar gue ada di ruang keluarga, sebuah pondok mungil berdinding kayu. Hurricane candle tertempel di dinding, membiaskan cahaya lemah. Gue membuka sebelah mata gue, mencoba mengidentifikasi tempat di mana gue berada sekarang. Di depan gue ada meja panjang, di atasnya ada segelas air putih.
Tanpa memperdulikan apakah itu beracun atau nggak, gue nenggak abis isi gelas itu.
“Nadhilaaa!” Gue berjengit pas Gaby dateng dan nyerbu gue, meluk gue. Ini bukan scene lesbi ya. Camkan itu.
“O-oi, kenapa sih?” tanya gue, sambil menoleh pada anak-anak cewek lain yang dateng ke arah gue. Memasang wajah heran.
“Nad, lo diserang Dream Eater,” jawab Mevya.
Ah, gue ngerasa dejavu. Rasanya gue udah pernah diserang mahluk berpakaian hitam semua. Gue ngerasa kayak Harry Potter yang kena karma karena nyebut nama Voldemort. Lagian, apa pula itu Dream Eater? Pelahap mimpi? Kayak orang yang kehabisan makanan dan nggak tahu mau makan apa lagi aja.
“Apa pula itu Dream Eater?” Gue bertanya lagi, menyilangkan kaki gue dan duduk sambil memeluk guling di sofa. Sementara anak-anak cewek lain menjejalkan diri di kursi-kursi ruang keluarga. Sebelah gue ada Tami dan Celsi. Untung nggak kesempitan. Kalo nggak kasian Celsi keimpit.
“Kayaknya… kita mesti jelasin semuanya ke dia. Tentang apa, bagaimana, kenapa, kapan, dan siapa,” usul Yola, menyebut lengkap enam unsur berita.
”Pertama—apa!” Kenia memulai.
Gue ngangkat alis, ”Ya?” Dan memperispakan telinga gue agar mendengar baik-baik cerita panjang dari temen-temen gue ini.
.
”HAAAAH?” Gue otomatis syok. Cengok setelah mendengar penjelasan berinci anak-anak. Terbuktilah sudah alasan mengapa anak-anak cowok begitu nggak suka Xander, dan mengapa Xander begitu baik sama kita. Xander mau ngancurin kita—mimpi-mimpi kita. Karena kita knights, karena kita penyelamat Dreamland.
”Jadi... Karin sama Salma diserang Dream Eater? Berarti mimpi mereka..?”
Adini menjawab untuk gue, ”Beruntung Christoper bisa memulihkan keadaan orang yang diseran Dream Eater. Mereka baik-baik aja, lagi istirahat di kamar,”
Lanjut Tami, ”Masalahnya, Chris cuma bisa nyembuhin tiga kali! Dan sudah dua kali dipakai.”
Kenia mengangguk, ”Ini berarti kita harus waspada dari serangan Dream Eater.”
Gue terdiam. Mencoba meresapi suasana dan konflik yang ada. Lalu, tiba-tiba gue teringat. Bukannya kemarin malam gue diserang Dream Eater ya? Kenapa gue nggak mati?—maksud gue mimpi gue. Gue mencoba bertanya, “Tadi malem gue diserang Dream Eater. Kenapa gue nggak mati?”
“Karena ada Sword of Dream,” Gaby menjawab lugas untuk gue. Gue melayangkan pandangan bingung sama dia.
”Itu,” kata Mayang, ”pedang yang bisa mengalahkan pemimpin Dream Eater, Xander sendiri. Bisa melindungi orang yang memegangnya.”
Gue makin nggak ngerti. Jadi, konklusinya?
Mungkin seperti ini:
Drexander Clavell dan Christoper Clavell bersaudara. Karena iri pada adiknya yang diwarisi takhta, Xander memberontak dan menggulingkan pemerintahan Christoper. Ia memanggil Dream Eater untuk menghancurkan Dreamland, tapi terhambat oleh munculnya rumor tentang knights yang akan menyelamatkan Dreamland. Karena kita sebagai knights, Xander berpura-pura baik padahal ingin menghancurkan kita.
Tugas knights, menjatuhkan Xander dan mengembalikan Christoper ke singgasana.
Sesimpel itu essaynya, tapi nggak sesimpel ngelakuinnya. Easier said than done.
“Kalau begitu, di mana pedangnya?” tanya gue.
”Jutsru itu masalahnya,” Celsi melipat tangan di depan dada, ”pedangnya Nad, lo tinggalin di perpustakaan istana.”
”Lah? Tinggal ngambil kan?” Kayaknya di antara semua anak-anak cuma gue yang nggak gitu ngerti duduk perkaranya.
”Nenek lu!” Tami menjitak kepala gue gemes.
“Lah? Apa salah gue?” Gue meringis kesakitan. ”Kalo ketinggalan berarti harus ngambil ’kan?”
”Iya!” ketus Kenia. ”Dengan resiko diserang sama Dream Eater terus mati dalam pesimisme!”
Gue baru ngeh. Iya ya, nggak mungkin pertahanan istana selonggar dulu. Pasti udah dijaga Dream Eater di sisi-sisinya. Rese banget sih. Pengen gue kasih makanan biar namanya berubah menjadi Food Eater. Cih. Berarti, kita harus menyelinap.
”Nad, Nad,” panggil Mevya. Gue menyahut dengan mengangkat alis.
”Waktu lo diserang Dream Eater, rasanya gimana?”
”Kayak diinseminasi buatan,” jawab gue asal. Anak-anak ngakak.
“Eh, hayuk, kita ikut diskusi ama anak-anak cowok di ruang makan.” Yola beranjak, berdiri dari kursinya. Diskusi apaan neh? Strategi ya? Wah, makin dramatis aje.
“Christoper mana?” Gue denger Adini nanya. Lalu Mayang menjawab, “Nyari makanan sama Dito dan Aji.”
.
”NAH, pedang ditinggalkan Nadhila di perpustakaan.” Odie menunjuk denah besar di dinding Terimakasih buat Aji dan daya ingat Tami. Dengan pensil dan kertas super gede, Aji menggambar denah lengkap istana. Gue penasaran, gimana cara Tami menjelajahi istana yang segede gajah? Atau gimana caranya Aji menggambarkan dengan akurat? Itu rahasia Tuhan.
“Untuk memulai penyerangan, kita nggak boleh buru-buru. Harus tenang, tanpa ada indikasi kita mau menyerang Xander dan Dream Eater.” Odie melanjutkan dengan daya diplomat.
“Nggak bisa dong,” protes Risyad. ”Kita emang kagak boleh bertindak gegabah, tapi bukan berarti kita nggak boleh mengantisipasi dengan cepat!”
“Gue setuju,” kata Mayang, mengetuk-etukkan jemarinya ke meja. “Kalo kita terlalu lambat, malah bakal ngebosenin dan kita mati perlahan-lajan oleh Pelahap Mimpi.” Ia terkikik sebentar.
”Iya, benar,” kata Odie. ”Agreed.”
”NAH! Kalo begitu, sekarang kita langsung menyusup ke istana. Gue mau jadi relawan.” Risyad mengangkat telunjuknya tinggi-tinggi.
Tapi nggak ada yang bergeming.
”Oi!” panggil Risyad, meminta konfirmasi atas titahnya.
”Sori,” kata Wildan santai, ”bukan elu pemimpin di sini. Tapi Odie,” ia menunjuk Odie yang sibuk dengan perhitungan strategi Matematika. Gue nggak ngerti sama yang dia tulis. Jangan salahkan otak gue yang pas-pasan.
”Nad, pas lo masih pingsan, Chris nobatin Odie jadi pemimpin knights. Dan kita diwajibkan menururti semua perintah dia.” Yola menjelaskan kepada gue. Berbisik.
”Dan pasalnya ih... nggak banget,” Gaby bergidik.
”Emang apa?”
”(1) Odie selalu benar, (2) Dan bila Odie salah, kembali pada pasal pertama.”
Najesh. Itu sama aja Odie egois! Tapi, bodolah. Gue yakin otak miringnya punya cukup kapasitas untuk memikirkan strategi yang tak terduga. Lagian dengan pasal begitu, Odie pasti menghindari kesalahan dengan cermat dan penuh perhitungan matematis.
”Kalo gitu, Die, gue ngusulin biar kita gerak sekarang.” Risyad mengganti titahnya menjadi usul.
”Ini ’kan siang, Syad!” Riva mengingatkan dia. Yeh, menurut gue mending kita gerak sekarang. Penyusupan itu kerap kali dilakukan pas malam, pasti pas malem penjagaan lebih diperketat. Kalo siang, mungkin penjagaan nggak begitu ketat, paling nggak ada celah untuk menyusup.
Odie lalu menjelaskan definisi yang gue tuturkan barusan. Lanjutnya, ”Tapi gue nggak setuju sama usulan lo, Syad. Sori.”
Gue mendelik. Nggak bisa nebak isi kepala orang ini.
”Rencana sebenarnya apa sih?” celetuk Kenia.
“Kita menyusup malem-malem,” kata Odie. Lah, ini orang plin-plan banget sih! Tadi,dia baru saja menjelaskan traktat gue. Lah, sekarang malah membelot. Gue yakin ada satu hal yang direncain kodok berdiri ini. Tapi, baik gue maupun anak-anak, nggak bisa menebak.
“Oooh, tidak bisa.” Rafly menirukan gaya Sule.
“Lo kok plin-plan sih? Tadi lo bilang penjagaan malem pasti diperketat? Sekarang—lo ngusulin menyusup malem-malem?” Naufal mengernyit.
“Iya, itu definisi normalnya. Justru mereka mengira kita akan mempercayai definisi barusan, karena itu kita melakukan sebaliknya.”
Oh? Jadi,dengan kata lain, Odie menyangkal traktat gue? Dia menyangkal permainan kata oleh seniman aksara, Kawan. Ini tak bisa dimaafkan.
”Tapi nggak menutup kemungkinan kalo mereka juga berjaga pas malem ’kan?” Risyad masih ngotot. Ia berdiri dari duduknya, menaruh kepalan tangannya di atas meja.
”Ya. Tapi justru lebih efektif kita menyerang pas malem,” ujar Odie kalem.
”Gue nggak setuju!” seru Risyad. Oh yeah. Gue yakin abis ini bakal ada marah-marahan yang dramatis. Di otak gue Risyad langsung berdiri, memunggungi Odie, lalu berkata, ’Maaf, Odie, it’s over. Gue nggak bisa bertarung di bawah perintah lo,’ sambil menahan tangis.
Lalu Odie balas berkata, misalnya seperti ini, ’Gue tahu, lo pembangkang. Ya, kita udah nggak sejodoh. Pergilah, jangan biarkan ada satupun debu yang menempel di emas! Pergilah, Syad. Jalani takdirmu!’ sembari memberikan sebuah revolver perak.
Lalu, misalnya, Risyad menerima revolver itu dengan haru. Lalu berkata, ’Oh, Odie. Terimakasih banyak. Kelak nanti, bila namaku membesar, aku takkan melupakan jasamu, Odie,’ lalu berjalan mendekati pintu, berbalik sebentar menatap anak-anak, ’selamat tinggal, Kawanku...’
Dan—BLAM.
Pintu ditutup. Risyad pergi. Dramatis.
Tapi bayangan jelas cuma ilusi. Kenyataan tetaplah realita. Odie mengernyitkan alis, tapi seklias, gue liat ada seirngai licik. ”Kalo lo nggak setuju, silahkan pergi, sana. Nggak apa-apa kok, satu personel menghilang.”
”Woi!” Wildan merelai, ”santai!”
”OKE!” Risyad mendecak keras. Sengaja. Tadinya gue mau komentar, tapi gue ga jadi dan memiluh bungkam. Gue nggak mau kena jotos Wildan atau sepakan Risyad. Gue duduk di kursi gue dengan tangan terlipat, mengernyit.
”Gue nggak ikut rencana picik lo, Die! Gue bosen jadi yang kedua!” Risyad menuding Odie.
“Woi, woi, santai!” Riva menahan Risyad yang sudah mengambil sikap yang mengindikasikan bahwa dia mau menghajar Odie. Memberikan bogem mentah ke muka Odie yang menyeringai.
“Udah woi, mendingan selesein dengan kepala dingin!” Gue berteriak, mencoba memberikan usulan. Tapi anak-anak cewek menarik ujugn baju gue, mengintruksikan pada gue agar duduk dan nggak campur tangan.
Risyad mendecih, menyambar satu revolver perak di atas meja. “Gue keluar Die.”
Ia keluar dengan tidak dramatis. Tanpa mengucap salam perpisahan, tanpa cipikia-cipiki, tanpa bmenatap anak-anak untuk terakhir kalinya. Ia menutup pintu, dengan keras.
“ODIE!” Tami menjerit. “LO KOK NGEBIARIN GITU AJA?”
Di luar dugaan, Odie menyeringai. ”Tenang aja, Mi. Semuanya di bawah kendali gue,”
Rasanya gue pengen mukul kepala Odie sekarang juga. Atau nggak menggilasnya dengan buldoser. Anak-anak cowok terlihat sama, mereka berniat menghancurkan seringai Odie. Wildan menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
Rencana Odie, nggak ada yang bisa menebak. Maksud gue, siapa sih yang bisa nebak isi otak seorang jenius?
