Bagian tiga: Kebenaran
Rafly mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mengetuk pintu kayu dengan keras dan dalam kadar yang sangat jauh dari kata ‘sopan’. Dengan suara cemprengnya ia berteriak-teriak, “Samlekuuum! Misiiii! Spadaaaa!” Sambil meninju kepalannya ke pintu.
Malam makin larut. Horizon oranye cerah berganti menjadi hitam pekat dengan hiasan kerlip bintang. Sebentuk sabit simetris terukir jauh di angkasa, melayang dengan memancarkan cahaya lembutnya. Sinar keperakan menghujani sepuluh tubuh manusia yang berdiri tegak di depan sebuah pondok kumuh.
“Oiii! Samlekuum!” Dito menambahkan, berteriak-teriak dengan tak kalah cemprengnya.
“Bukain duuund!” tambah Risyad alay.
Odie swt, “Jelas nggak dibukain orang elunya alay dan nggak sopan.” Lanjutnya, “Gini neh, yang sopan dan bermartabat.”
Rafly, Dito dan Risyad yang ada di depan pintu kontan mundur selangkah. Dengan penuh hormat mempersilahkan ketua mereka memperagakan bagaimana manner yang benar dalam bertamu ke pondok seseorang. Andaikata ada karpet merah di sini, mungkin Ryan udah berkicau dengan ributnya menyambut Odie yang dengan elegan mendekati pintu reot dan mengangkat tangannya pelan-pelan.
Yang lain menunggu dengan was-was. Seperti apaklah Odie akan mengetuk pintu?
Dan ternyata—
“WOOOOOI! YANG DI DALEM RUMAH TOLONGIN GUEEEEE! GUE DAN ANAK-ANAK LAIN KEJEBAK DI LUAR GUE MAU NGINEEEEP!”
—Goblok. Sama aja!
“Tulul lu Die!” Wildan menghadiahi Odie satu jitakan penuh ‘cinta’ dan ‘kasih sayang’.
Bahkan Odie mengetuk pintunya lebih binal dari Rafly. Sambil cengengesan ia berkata, ”Kayaknya pemilik rumahnya emang nggak mau nerima anak-anak nggak jelas kayak kita. Jadi mesti gimana?”
”Elunya kurang sopan!” Acem berkilah. Dengan sohibnya sesama Adit ia berangkulan, ”Gue dan Penyok bisa ngasih tahu cara yang tepat dalam bertamu,” katanya misterius. Pandangan heran mengarah kepadanya—dan Adit P.
”Sesuai saran Nadhila,” dia nyebut nama gue, ”cara bertamu yang dramatis!”
Berkonvoilah anak-anak cowok mengelilingi Acem dan Adit P. yang otak mereka udah terkontaminasi pikiran stres gue. Dengan ekspresi misterius dan penuh ambisi, serta tiap keyakinan di tiap kata-katanya, dia pun mendiktekan cara bertamu yang dramatis menurut gue—si penulis stres.
”Begituu!” Adit P. melipat tangannya di depan dada.
”Oooooh!” Koor anak-anak cowok menganggukkan kepala mereka. Sesuai instruksi, yang berlakon atas rencana ini adalah Dito, yang mereka anggap paling tepat memerankan rencana nggak jelas ini.
“Ayo, To! Sekarang!” teriak Aji seperti Dito adalah ibu-ibu hamil yang mau ngelahirin dan disuruh mengejan.
Dito mengangguk canggung. Cowok kecil itu—seperti instruksi—berjalan mendekati pintu dengan langkah terseok-seok. Wajahnya dibuat sesedih dan setolol mungkin—inilah alasan mengapa Dito terpilih.
“Permisi, Tuan...” Dito berucap lirih. “Apakah Tuan mau menampung saya dan beberapa—eh... ternak—eh! Maksudnya teman saya? Oh, Tuan yang baik... bersediakah engkau menampungku dan sembilan teman imbisilku?” tanyanya dengan pilihan kata-kata dramatis.
“Hamba ini orang pengelana yang tersesat di Dreamland yang agung ini... Maukah Tuan menampung teman-teman saya dan saya sendiri? Mereka kasian, tidak makan sepuluh hari! Apalagi Odie yang badannya sudah ringkih...”
Ya, inilah rencananya: Berpura-pura menjadi pengelana yang kehilangan tempat tinggal dan berniat bernaung sebentar di pondok, menggunakan Dito sebagai perantaranya. Silahkan lempari otak gue yang berhasil mengontaminasi otak anak-anak cowok dengan pikirannya yang tidak rasional. Aww! Sakit, Bego! Ngapain lu lemparin gue pake sepeda?
Dito masih berada tepat di depan pintu dengan muka dongo. ”Tuan?”
Tak terdengar sahutan. Anak-anak cowok dongo sendiri. Mereka baru menyadari betapa tidak bergunanya ide dramatis gue yang mengontaminasi otak Acem dan Aidt P. yang tak berdosa. Riva mendecak keras. ”Udeh ah! Nggak ada gunanya kalo kita berdramatis begini, langsung pake kekerasaaaan!” Dengan badan atletisnya (sumpah, gue nggak tau atletis beneran apa kagak) dia menerjang pintu reot bak seorang prajurit di lautan perang.
”For Narniaaaa!” teriak Wildan nggak nyambung. Dengan tangan terkepal bak memegang parang ia berlari sekuat tenaga, bermaksud mendobrak pintu ketidakadilan yang terdapat di depan matanya kini. Gue baru tau Wildan suka juga sama Narnia. Kenia dan Mayang bakal dapet temen, nih.
”TUNGGUUU, GU, GU, GU, GU!” jerit seseorang menggema. Teriakan tersebut segera menghentikan gerakan anak-anak cowok yang dengan binal berniat mendobrak pintu. Seorang laki-laki dengan jubah dan keranjang di tangannya berlari tergesa-gesa mendekati gerombolan imbisil yang berkumpul di depan pondoknya.
Wildan menoleh dengan slow motion. Mendramatisir suasana. Ah, melihat cowok yang sedang berlari-lari ke arahnya sungguh menyejukkan hati. Bagai lautan pembuluh darah yang berpasir ini telah disiram oleh hujan yang menyuburkan tanaman. Bagai ada sejumput oase di tengah gersangnya pasir hati. Oh, alangkah indahnya asmara.
Kalau ini film India, gue bakal buat Wildan dan anak-cowok-nggak-jelas-yang-lagi-lari-lari saling menyongsong masing-masing. Berpelukan lalu menari-nari di tengah tumpukan bunga bangkai, sambil flirting di antara tiang besar.
Sayangnya, ini Dreamland.
”Maaf, tolong jangan hancurkan pondok saya!” kata anak cowok itu setelah sampai di dekat anak-anak cowok, ”saya janji akan bayar tagihan bulan depan!”
Entah kenapa, semua ini jadi makin tidak nyambung.
”Eng.. sebenarnya...” Aji melirik-lirik Odie dan beberapa anak lain, minta tolong.
”Kita mau nginep, boleh?”
.
Pemilik pondok ini bernama Christoper Clavell. Christoper, yang minta dipanggil Chris, memilki nama keluarga yang sama dengan Xander. Hal itu yang menyebabkan anak-anak cowok sedikit waspada dengan Chris. Untungnya, Christoper meluruskan kewas-wasan itu. Ia dengan sangat baik hatinya mempersilahkan anak-anak cowok untuk menginap dan menyediakan mereka makanan.
”Jadi? Lo ini sebenernya orang yang seharusnya menduduki tempat Xander sekarang?” Naufal menyimpulkan, menyeruput cokelat panasnya.
Christoper menjelaskan tadi, bahwa ia sesungguhnya adalah orang yang seharusnya menduduki takhta kerajaan Dreamland yang kini ditempati Xander. Chris dan Xander kakak-beradik, di mana Chris selaku adik lebih dewasa dan rasional di vanding Xander yang kekananakan dan over-emotional. Memang, Chris nggak ganteng-ganteng amat bila dibandingkan dengan Xander. Tapi paling nggak, dia nggak homo.
”Iya,” kata Chris. Menaruh segelas cokelat panas lagi di atas meja pondoknya.
Chris juga cerita, sejak sang Ayah yang dulu merupakan pemimpin Dreamland, meninggal, dia dinobatkan menjadi raja selanjutnya—ditilik dari kedewasaan dan kewibawaannya. Xander sang kakak jelas nggak terima. Dia memanggil Dream Eater, sekelompok manusia yang bisa memusnahkan mimpi-mimpi manusia dan membuatnya tenggelam dalam keputusasaan. Lalu Xander menggulingkan kepemimpinan yang dibangun Chris, serta merebut takhta.
”Selain itu, Xander juga berniat menghancurkan Dreamland.” Lanjut Christoper, ”Dia benci pemimpi dan mimpi. Karena itu, dia memanggil Dream Eater untuk mengahancurkan Dreamland." Christoper berhenti sebentar, menatap anak-anak cowok satu persatu.
"Hingga muncul suatu rumor, bahwa akan ada sekelompok manusia dari dunia nyata yang bisa menyelamatkan Dreamland dengan menggulingkan Xander serta mengalahkan Dream Eater," katanya. Mata biru Aquamarine-nya dapat melihat penasaran yang tergambar dengan jelas di wajah anak-anak cowok.
"Mereka disebut knights," Christoper melanjutkan, "prajurit pemberani yang bisa mengalahkan Xander beserta konco-konconya, dengan kekauatn ambisi serta mimpi mereka."
"Apa mereka udah ada?" tanya Wildan tegang, "di sini?”
”Tentu saja,” Christoper tersenyum, ”mereka adalah kalian, kelas 6B, penghuni apartemen putih. Knights.”
Tak ada yang sanggup berkata-kata.
.
Gue nggak bisa tidur.
Maksud gue, gimana gue bisa tidur? Gue merasa aura nggak enak sedari tadi. Pas Xander masuk ke kamar yang gue tempatin bersama Karin dan Salma. Memanggil dua cewek itu, karena gue pura-pura tidur. Gue ngerasa firasat nggak enak. Pengen rasanya menghambur ke kamar sebelah, bangunin Tami atau Adini, atau sekedar ngajak Gaby nemenin gue tidur.
Iya, gue emang ganteng. Tapi inget, gue nggak lesbi.
Gue makin resah. Perasaan gue bener-bener nggak enak. Selimut hangat yang harusnya bisa melindungi gue dari dinginnya suhu di luar sana menjadi sangat panas bagi gue. Keringat dingin mulai mengucur, sementara sudah setengah jam lebih Xander manggil Karin dan Salma. Mereka belum balik.
”Persetan!” Gue mendecak, menendang selimut.
Sebenernya, Xander ngelarang gue untuk menengok Karin dan Salma—yang dia bilang ada di perpustakaan, yang termasuk juga ruangan hobi. Gue berlari menyusuri koridor panjang yang gelap. Gue tahu, gue nggak bisa mainin pedang. Tapi paling nggak, gue tahu gunanya pedang untuk apa. Membunuh. Mengiris.
Jadi gue memutuskan mengambil sebilah pedang yang ada di patung ksatria.
Oh yeah. Gue emang psikopat.
Sebelumnya gue nyoba make tuh pedang buat nusuk seekor tikus yang lewat tepat di deket kaki gue. Mati dengan mengenaskan.
Ruang perpustakaan ada di depan gue. Gue mendorong pintu, dan di situlah Karin dan Salma. Memunggungi gue.
“Sal..? Karin..?” Gue manggil mereka berdua pelan-pelan. Berjingkat-jingkat dan memegang pedang erat-erat. Gue ngerasa... seperti pertumpahan darah akan terjadi dalam waktu dekat.
“Nad...,” Karin menoleh, “nggak ada gunanya kita bermimpi. Mimpi cuma tipuan untuk orang nggak berguna dan nggak berdaya seperti kita,” katanya pesimis.
”Maksud lo?” tanya gue nggak mengerti, ”bukannya lo yang selalu mau jadi pelukis? Lo kan yang mau mewujudkan mimpi lo itu?”
”Percuma Nad!” Salma berteriak, ”percuma aja! Gue nggak akan bisa jadi model—itu cuma mimpi!”
“Apaan yang percuma?! Badan lo bagus, Sal! Lo cantik! Ini lagi, Karin. Lu tau kan mimpi kita terwujud—yang diperlihatkan Xander tempo lalu?”
“Itu ILUSI Nad!” teriak Karin, frutasi. Menginjak-injak kanvas tepat di depan dia. ”Nggak mungkin mimpi kita terwujud. Kita orang yang nggak berdaya. Kita bahkan nggak punya bonyok! Gimana kita bisa mewujudkan mimpi kita?”
”SADAR NAD! SADAR POSISI!” tambah Salma.
”LO YANG SADAR! KITA EMANG NGGAK BERDAYA! DAN JUSTRU MIMPI KITA ITU BERGUNA UNTUK KETIDAKBERDAYAAN ITU!” gue bales neriakin mereka. Sepertinya ada sesuatu yang aneh sama mereka. Seperti mimpi mereka telah hilang dicuri orang—
Satu nama melayang-layang di otak gue: Drexander Clavell.
”Xander! Apa yang Xander lakuin sama kalian?” tanya gue.
”I’ve done nothing, Your Highness.” Gue menoleh, mendapati Xander mendekati gue dengan pakaian tidurnya yang berwarna merah. Memuakkan. Xander mendekati gue dengan tangan terlipat di belakang. ”Hanya menghilangkan mimpi-mimpi mereka.”
”XANDER!” teriak gue, menghunuskan pedang gue.
Lalu dia tersenyum licik. ”Selanjutnya, kau pun akan sama, knights.”
Gue jujur bingung kenapa dia manggil gue knights. Tapi sebodo amat. Gue lebih mentingin nemuin makna intrisik kata-katanya. Gue segera menoleh, ada beberapa orang berpakaian serba hitam mendekat ke arah gue.
Setelah itu, gelap.
I can’t see anything. Termasuk mimpi gue, menjadi seorang penulis.
Ketika itu, gue mendengar suara gemuruh yang cempreng. Gue nggak bisa mendefinisikan dengan jelas, tapi gue ngerasa, gue masih bisa melihat mimpi gue, walaupun samar.
Sedetik kemudian kesadaran tercabut paksa dari tubuh gue.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar