Sepanjang gue idup di dunia ini, selama idung gue masih menghembuskan napas, selama jantung gue berdetak, yang namanya Dreamland, itu hanya ada di dongeng-dongeng murahan. Cerita anak-anak! Gue emang bermimpi menjadi penulis. Penulis yang menulis buku-buku best-seller. Buku-buku yang bermutu, bikan hanya berisi remaja cinta-cintaan. Bukan juga cerita fiksi yang omong kosong... seperti Dreamland ini.
Gue selalu menganggap cerita anak itu cuma buaian belaka. Cuma cerita pengantar tidur, agar si Anak bisa tidur tenang tanpa membangunkan nyokapnya malam-malam lantaran pengen pipis. Tapi ternyata, semua asumsi gue salah. Sekarang, gue berada di Dreamland. Bayangin, Dreamland! Gue nyubit-nyubit muka gue, Celsi ngegrepe-grepe diri sendiri.
"What's wrong, Your Highness?" tanya Drexander. "Kalian tidak percaya kalian ada di Dreamland?"
"Ya iyalah!" ketus Gaby. "Yang namanya Dreamland itu pasti mimpi. Nggak mungkin ada Dreamland," sahutnya sarkatis.
"Its' not a dream, Your Highness." Drexander mencoba meyakinkan Gaby—dan semua anak-anak sebetulnya. Tapi gue tetep nggak percaya,walaupun sakit rasanya pas Kenia nginjek kaki gue dengan sepenuh hati. Drexander berdiri di depan dengan elegannya, wajahnya bersinar penuh wibawa. Dan gue sama sekali nggak tertarik.
"Dreamland ini, benar-benar lautan mimpi," kata Drexander. Gue ngeliat muka dia yang mulus. Tuh, 'kan. Bishie nih orang! Dalam kategori gue, cowok itu cuma ada dua: brengsek dan homo. Yang brengsek tuh ya... playboy. Yang homo ya, si Drexander ini! Gue melipat tangan di depan dada. Yola, Mevya, Celsi dan Tami nampak menunggu lanjutan ucapan Drexander dengan seksama.
"Di sini, tempat mimpi kalian semua bermuara," lanjut Drexander. "Di sini, dengan pertimbangan matang, mimpi-mimpi kalian akan dihitung berapa skala keberhasilannya. Dengan kata lain, di sini mimpi-mimpi ditimbang dan dikabulkan."
"Berarti…?" Riva menggantung kalimatnya. Mendratamatisir suasana. Yes, dramatis lagi!
"Mimpi kalian, knights, akan terkabul di sini..." Drexander memberikan senyuman termanisnya—bikin gue huek-huek di belakang sana. Bikin Yola dan Mevya ngefly. Bikin Celsi dan Tami terpukau akan gantengnya. Bikin Karin bersorak gembira sambil tos sama Gaby karena mimpi yang terkabul. Sementara ekspresi Mayang dan Kenia datar-datar aja.
"Nggak seru!" cibir Wildan, "mana seru kalo mimpi kita langsung dikabulin seenak udel? Kita maunya ada tantangan, tahu!" Sarkatis. Gue sependapat sama lo, Dan. Sayangnya gue nggak sabar ngeliat wujud mimpi gue yang terkabul.
"Iyaa! Nggak seruuuu!" Dito mengangguk mendukung penuh atas Wildan.
"Drexander… Gimana caranya ktia bisa ngeliat mimpi kita yang jadi nyata itu?" tanya Adini, terlampau sopan. Gue menenggelamkan tangan gue ke saku jaket.
"Ah, panggil saja Xander, Your Highness." Xander senyum dengan kemayunya, "Xander Clavell." Dari tadi ni orang nyebut nama mulu dah, pengen gue gampar.
"O-oke... Xander..." Yola bahkan melupakan kelinci-kelinci manis yang tadi ada di pelukannya. Pipinya bersemu merah. Gue akuin Xander emang cakep sih, cih. Nggak sebishie Ggio Vega tapinya~
"Mau melihat mimpi kalian?" tawar Xander, berbalik. Mengisyaratkan kita mengikuti dia. Ia menggerakkan tangan di atas bahunya, menyuruh kita mengikutinya. Gue menyusul langkah Mayang dari belakang. Gue telat.
"Anak cewek itu... gampang banget terpesona! Sikap kerennya Xander itu nggak bisa dimaafin!" Risyad mengepal tangan dengan ekspresi mendukung. Iya, sebagai cowok terganteng—kalo ada Toushiro Hitsugaya, Risyad yang terjelek—Risyad merasa tersaingi oleh kewibawaan Xander. Apalagi Yola dan beberapa cewek udah dibikin klepek-klepek sama Xander.
"Gue nggak seneng sama dia," tambah Naufal. Mencibir. Iyalah. Mukenye dia kayak apa, bagai langit sama bumi kalo dibandingin sama Xander. Dasar Opet.
"Gue juga," sahut Aji setuju. "Tapi bukan karena dia teralu ganteng. Tapi karena... auranya nggak enak." Sebagai calon komikus, Aji cukup handal mendata orang hanya dengan sekilas. Lewat imajiniasinya, tentu.
"Terus kenapa?" Adit P. mengangkat alis.
"Ya tadi, itu, penyok!" Aji sewot," auranya nggak enak!" Ia memberikan jitakan penuh 'cinta' di puncak kepala Adit P.
"Emang sih, auranya nggak enak," Odie setuju, "di samping mukanya emang ganteng,"
"Ogah ah gua ngeliat mimpi gue nanti. Gue ngerasa pengecut kalo wujudin mimpi tanpa usaha," Wildan mengganti topik. Tapi tetap masih ada sangkut pautnya dengan Xander.
"Iya, gue juga ogah," Adit CM mengangguk setuju. Biasanya, ia disapa Acem. "Barusan gue mau ngomong gitu~"
"Pokoknya, gue ngerasa Xander bukan orang baik-baik!" Odie memutuskan perkara dengan conclusion. Ia resmi menutup sidang paripurna ini. Masing-masing anggota mencatat baik-baik pernyataan absolut ketua mereka.
.
Begitu kita sampai di istana Xander, cowok flamboyan itu menyuruh kita menutup mata. Walaupun bingung, gue nutup mata, setelah anak-anak yang lain menutup bola mata mereka dengan kelopak matanya.
"Kalian ingin melihat mimpi kalian yang terkabul, bukan?" Xander tersenyum tipis, "sekarang, tutup mata kalian. Mimpikan apa yang selama ini kalian mau. Begitu membuka mata, kalian berada di masa kalian berjaya dengan mimpi yang menjadi nyata," jelasnya.
Oh. Kalo gitu... gue pengen gue tenar sebagai penulis terkenal.
"Now, open your eyes, Your Highness."
Gue buka mata. Pas gue buka mata, cuma ada gue sendiri di ruangan putih yang terdiri dari berbagai macam pintu plastik berukir lambang kerajaan Dreamland. Gue bingung di mana gue berada sekarang, hingga muncul cahaya keperakan di depan gue. Seakan menuntun gue datang kepadanya. Mengikuti intuisi, gue mengikutinya. Berjalan di antara lautan kehampaan, kucoba meraih gemilang. Begitu kubuka pintu, serasa semua beban menghilang seketika. Oh, betapa indah asmara ini.
Gue membuka pintu. Di balik pintu, adalah sebuah toko buku. Lengkap dengan rak serta buku-buku yang menjejalinya. Gue menoleh, dan refleks teriak.
ASTAGA!
Di rak buku, isinya buku gue! Memang cuma satu rak buku kecil, tapi—itu semua penuh dijejali oleh buku-buku gue, yang selama ini nggak pernah diterima penerbit.
'Cinderella's Weird Cellphones' Ini buku pertama yang gue buat. Ditolak dengan sadis oleh penerbit murahan.
'I Married to a Ghost' Buku horor pertama gue. Ditolak juga.
'Browsing for Love' Gue inget banget naskah buku ini dilempar tepat ke muka gue pas gue ajuin ke penerbit. Ditolak.
'My Butler, My Savior, My Love!' Buku roman pertama gue, yang berakhir di tempat pembuangan sampah oleh penerbit nggak jelas.
'Curse at the Sand' dan 'Blood and Cherryblossom' Novel pendek yang gue selesin langsung dengan sekuelnya. Gue pernah mengirimkan buku ini, dan ditolak mentah-mentah karena dianggap nggak bermutu.
'Hotel 626' Buku yang pernah gue bikin, horor kedua yang sukses ngebuat Dito cepirit di celana pas gue paksa ngebaca. Ditolak dengan alasan terlalu horor.
'Twilight is Suck' Buku kritik pertama gue, yang ditolak dengan kasar oleh penerbit yang ternyata menyukai Twilight Saga.
'Seven Reasons to Hate Love' Novel pendek gue, yang udah gue kerjain speenuh hati pas gue patah hati, dengan diksi terbagus yang gue pernah bikin. Nggak pernah dikasih jawaban oleh penerbit.
'Dreams Under My Sleep' Novel terdramatis yang pernah gue bikin. Dengan diksi terdahsyat yang bikin anak-anak bego nggak ngerti. Ditolak.
Sepuluh buku yang pernah gue ketik, yang pernah gue kirim. Yang mengalami penolakan, ada di depan mata gue. Diterbitkan dengan gelar 'best seller'.
Shit. Rasanya gue nangis.
.
"TADI ITU HEBAAAAT!" Salma jejeritan histeris. "Tau nggak, gue... gue... jalan di catwalk dengan baju rancangan Kimora Lee!" Lalu dia meluk Mayang erat. Tadinya mau meluk Tami, apa daya tangan tak sampai.
"Hebatan gue," Tami mengerling Kenia, "kita berdua bikin seminar blogger yang baik—dan merancang program komputer sendiri!" Mimpi mereka sama sih.
Giliran gue pamer kebolehan, "Tadi gue ke toko buku, dan gue ngeliat satu rak besar berisi sepuluh buku tulisan gue!"
Karin melanjutkan, "Gue, barusan... ke galeri dan melihat semua lukisan gue di sana! Semuanya lantas terjual! SOLD OUT!"
Gue udah dengar kisah Mayang. Dia bilang, dia sedang menghadiri acara masak-masak yang didadakan sebuah stasiun televisi ternama. Gaby juga telah mapan. Sama mapannya dengan Adini. Yola telah menceritakan pengalamannya mengolah sebuah perusahaan makanan. Sekarang dia ada di kamar mandi, Mevya yang bermimpi menjadi pramugari menemaninya.
Dari mana kita semua tahu bahwa mimpi kita ini akan terkabul?
Dari Xander.
Celsi unjuk kebolehan, "Gue—"
"Bagaimana?" Xander tiba-tiba menerobos masuk, menyela kata-kata Celsi. "Apa kalian senang dengan kenyataan bahwa mimpi kalian terkabul?" ia tersenyum.
Celsi mengangguk antusias, "BAN—"
"Banget, Xander!" sela Kenia. "Gue ngak pernah nyangka nantinya software buatan gue laku berat di seluruh dunia!"
Salma tersenyum manis. Sikapnya emang lebay. Tapi sumfeh, kalo dia lagi nyengir atau paling nggak senyum cantiknya bukan buatan! Dia melenggak-lenggok a la model di dekat gue, "Baju Kimora Lee paling oke!" desahnya semangat
.
"Dan gaya lo lebay," komentar gue sarkatis.
"You're beautiful, Your Highness." Xander memujinya. Keliatan tulus. "Purely beautiful." Salma tersipu malu meong-meong. Dia ngumpet di belakang Adini yang jelas jauh lebih mungil darinya. Bego.
"Ah, ngomong-ngomong, mana anak cowok?" tanya Mevya, mengedarkan pandangan ke segala penjuru arah.
Bener juga ya? Gue baru nyadar nggak ada anak cowok di sini. Ke mana mereka?
.
Malam makin larut. Tekad untuk tidak mengikuti Xander yang mereka yakini bukan orang baik telah menanamkan sikap optimis di hati. Walaupun telah berjalan beribu-ribu langkah, dan telah diminta Xander untuk menetap di istananya, anak-anak cowok menolak. Dari jendela kamar gue di istana Xander, bisa gue liat anak-anak cowok yang keluar dari pintu depan istana.
Sepuluh imbisil sedang berjalan beriringan. Sigh.
Mereka berjalan dengan Odie memimpin, disusul Wildan di sampingnya.
"Gimana? Lu udah tau apa yang dilakuin Xander sama anak-anak cewek?" tanya Risyad.
"Dia kayak ngasih gambaran tentang mimpi mereka yang terkabul gitu," Acem mengangkat bahu, "entah beneran apa nggak."
"Apapun itu, pokoknya gue tetep nggak percaya sama Xander," cibir Aji, berjalan di sebelah Rafly.
"Tapi~" Dito loncat-loncat menghindari rerumputan yang menyeramkan baginya, "kita nggak dapet tempat menginap neeeeh!"
"Kita nolak tawaran Xander, pokoknya kita harus tetap ada di visi dan misi kita!" tekad Wildan berapi-api. "Tuh, liat, ada pondok kumuh di sono!" Secepat ia menunjuk, secepat sepuluh kepala menoleh.
"Kita bisa numpang nginep di sana..." Wildan dan Odie saling angguk. Dengan kecepatan kilat, speuluh pasang kaki itu berlari menunju pondok. Yang mereka tak tahu, kebenaran akan intuisi mereka terungkap di sana. Sementara, perpecahan sementara adalah resiko yang menganga lebar di hadapan mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar