Pengikut

Jumat, 21 Januari 2011

DreamLand

Bagian Keempat: Strategi

Waktu gue pingsan, gue nggak nyadar. Bego.

Maksud gue, gue nggak nyadar kalo gue pingsan. Cih, bego lagi.

Satu hal yang nggak gue ngerti. Pas gue sadar gue ada di ruang keluarga, sebuah pondok mungil berdinding kayu. Hurricane candle tertempel di dinding, membiaskan cahaya lemah. Gue membuka sebelah mata gue, mencoba mengidentifikasi tempat di mana gue berada sekarang. Di depan gue ada meja panjang, di atasnya ada segelas air putih.

Tanpa memperdulikan apakah itu beracun atau nggak, gue nenggak abis isi gelas itu.

“Nadhilaaa!” Gue berjengit pas Gaby dateng dan nyerbu gue, meluk gue. Ini bukan scene lesbi ya. Camkan itu.

“O-oi, kenapa sih?” tanya gue, sambil menoleh pada anak-anak cewek lain yang dateng ke arah gue. Memasang wajah heran.

“Nad, lo diserang Dream Eater,” jawab Mevya.

Ah, gue ngerasa dejavu. Rasanya gue udah pernah diserang mahluk berpakaian hitam semua. Gue ngerasa kayak Harry Potter yang kena karma karena nyebut nama Voldemort. Lagian, apa pula itu Dream Eater? Pelahap mimpi? Kayak orang yang kehabisan makanan dan nggak tahu mau makan apa lagi aja.

“Apa pula itu Dream Eater?” Gue bertanya lagi, menyilangkan kaki gue dan duduk sambil memeluk guling di sofa. Sementara anak-anak cewek lain menjejalkan diri di kursi-kursi ruang keluarga. Sebelah gue ada Tami dan Celsi. Untung nggak kesempitan. Kalo nggak kasian Celsi keimpit.

“Kayaknya… kita mesti jelasin semuanya ke dia. Tentang apa, bagaimana, kenapa, kapan, dan siapa,” usul Yola, menyebut lengkap enam unsur berita.

”Pertama—apa!” Kenia memulai.

Gue ngangkat alis, ”Ya?” Dan memperispakan telinga gue agar mendengar baik-baik cerita panjang dari temen-temen gue ini.

.

”HAAAAH?” Gue otomatis syok. Cengok setelah mendengar penjelasan berinci anak-anak. Terbuktilah sudah alasan mengapa anak-anak cowok begitu nggak suka Xander, dan mengapa Xander begitu baik sama kita. Xander mau ngancurin kita—mimpi-mimpi kita. Karena kita knights, karena kita penyelamat Dreamland.

”Jadi... Karin sama Salma diserang Dream Eater? Berarti mimpi mereka..?”

Adini menjawab untuk gue, ”Beruntung Christoper bisa memulihkan keadaan orang yang diseran Dream Eater. Mereka baik-baik aja, lagi istirahat di kamar,”

Lanjut Tami, ”Masalahnya, Chris cuma bisa nyembuhin tiga kali! Dan sudah dua kali dipakai.”

Kenia mengangguk, ”Ini berarti kita harus waspada dari serangan Dream Eater.”

Gue terdiam. Mencoba meresapi suasana dan konflik yang ada. Lalu, tiba-tiba gue teringat. Bukannya kemarin malam gue diserang Dream Eater ya? Kenapa gue nggak mati?—maksud gue mimpi gue. Gue mencoba bertanya, “Tadi malem gue diserang Dream Eater. Kenapa gue nggak mati?”

“Karena ada Sword of Dream,” Gaby menjawab lugas untuk gue. Gue melayangkan pandangan bingung sama dia.

”Itu,” kata Mayang, ”pedang yang bisa mengalahkan pemimpin Dream Eater, Xander sendiri. Bisa melindungi orang yang memegangnya.”

Gue makin nggak ngerti. Jadi, konklusinya?

Mungkin seperti ini:

Drexander Clavell dan Christoper Clavell bersaudara. Karena iri pada adiknya yang diwarisi takhta, Xander memberontak dan menggulingkan pemerintahan Christoper. Ia memanggil Dream Eater untuk menghancurkan Dreamland, tapi terhambat oleh munculnya rumor tentang knights yang akan menyelamatkan Dreamland. Karena kita sebagai knights, Xander berpura-pura baik padahal ingin menghancurkan kita.

Tugas knights, menjatuhkan Xander dan mengembalikan Christoper ke singgasana.

Sesimpel itu essaynya, tapi nggak sesimpel ngelakuinnya. Easier said than done.

“Kalau begitu, di mana pedangnya?” tanya gue.

”Jutsru itu masalahnya,” Celsi melipat tangan di depan dada, ”pedangnya Nad, lo tinggalin di perpustakaan istana.”

”Lah? Tinggal ngambil kan?” Kayaknya di antara semua anak-anak cuma gue yang nggak gitu ngerti duduk perkaranya.

”Nenek lu!” Tami menjitak kepala gue gemes.

“Lah? Apa salah gue?” Gue meringis kesakitan. ”Kalo ketinggalan berarti harus ngambil ’kan?”

”Iya!” ketus Kenia. ”Dengan resiko diserang sama Dream Eater terus mati dalam pesimisme!”

Gue baru ngeh. Iya ya, nggak mungkin pertahanan istana selonggar dulu. Pasti udah dijaga Dream Eater di sisi-sisinya. Rese banget sih. Pengen gue kasih makanan biar namanya berubah menjadi Food Eater. Cih. Berarti, kita harus menyelinap.

”Nad, Nad,” panggil Mevya. Gue menyahut dengan mengangkat alis.

”Waktu lo diserang Dream Eater, rasanya gimana?”

”Kayak diinseminasi buatan,” jawab gue asal. Anak-anak ngakak.

“Eh, hayuk, kita ikut diskusi ama anak-anak cowok di ruang makan.” Yola beranjak, berdiri dari kursinya. Diskusi apaan neh? Strategi ya? Wah, makin dramatis aje.

“Christoper mana?” Gue denger Adini nanya. Lalu Mayang menjawab, “Nyari makanan sama Dito dan Aji.”

.

”NAH, pedang ditinggalkan Nadhila di perpustakaan.” Odie menunjuk denah besar di dinding Terimakasih buat Aji dan daya ingat Tami. Dengan pensil dan kertas super gede, Aji menggambar denah lengkap istana. Gue penasaran, gimana cara Tami menjelajahi istana yang segede gajah? Atau gimana caranya Aji menggambarkan dengan akurat? Itu rahasia Tuhan.

“Untuk memulai penyerangan, kita nggak boleh buru-buru. Harus tenang, tanpa ada indikasi kita mau menyerang Xander dan Dream Eater.” Odie melanjutkan dengan daya diplomat.

“Nggak bisa dong,” protes Risyad. ”Kita emang kagak boleh bertindak gegabah, tapi bukan berarti kita nggak boleh mengantisipasi dengan cepat!”

“Gue setuju,” kata Mayang, mengetuk-etukkan jemarinya ke meja. “Kalo kita terlalu lambat, malah bakal ngebosenin dan kita mati perlahan-lajan oleh Pelahap Mimpi.” Ia terkikik sebentar.

”Iya, benar,” kata Odie. ”Agreed.”

”NAH! Kalo begitu, sekarang kita langsung menyusup ke istana. Gue mau jadi relawan.” Risyad mengangkat telunjuknya tinggi-tinggi.

Tapi nggak ada yang bergeming.

”Oi!” panggil Risyad, meminta konfirmasi atas titahnya.

”Sori,” kata Wildan santai, ”bukan elu pemimpin di sini. Tapi Odie,” ia menunjuk Odie yang sibuk dengan perhitungan strategi Matematika. Gue nggak ngerti sama yang dia tulis. Jangan salahkan otak gue yang pas-pasan.

”Nad, pas lo masih pingsan, Chris nobatin Odie jadi pemimpin knights. Dan kita diwajibkan menururti semua perintah dia.” Yola menjelaskan kepada gue. Berbisik.

”Dan pasalnya ih... nggak banget,” Gaby bergidik.

”Emang apa?”

”(1) Odie selalu benar, (2) Dan bila Odie salah, kembali pada pasal pertama.”

Najesh. Itu sama aja Odie egois! Tapi, bodolah. Gue yakin otak miringnya punya cukup kapasitas untuk memikirkan strategi yang tak terduga. Lagian dengan pasal begitu, Odie pasti menghindari kesalahan dengan cermat dan penuh perhitungan matematis.

”Kalo gitu, Die, gue ngusulin biar kita gerak sekarang.” Risyad mengganti titahnya menjadi usul.

”Ini ’kan siang, Syad!” Riva mengingatkan dia. Yeh, menurut gue mending kita gerak sekarang. Penyusupan itu kerap kali dilakukan pas malam, pasti pas malem penjagaan lebih diperketat. Kalo siang, mungkin penjagaan nggak begitu ketat, paling nggak ada celah untuk menyusup.

Odie lalu menjelaskan definisi yang gue tuturkan barusan. Lanjutnya, ”Tapi gue nggak setuju sama usulan lo, Syad. Sori.”

Gue mendelik. Nggak bisa nebak isi kepala orang ini.

”Rencana sebenarnya apa sih?” celetuk Kenia.

“Kita menyusup malem-malem,” kata Odie. Lah, ini orang plin-plan banget sih! Tadi,dia baru saja menjelaskan traktat gue. Lah, sekarang malah membelot. Gue yakin ada satu hal yang direncain kodok berdiri ini. Tapi, baik gue maupun anak-anak, nggak bisa menebak.

“Oooh, tidak bisa.” Rafly menirukan gaya Sule.

“Lo kok plin-plan sih? Tadi lo bilang penjagaan malem pasti diperketat? Sekarang—lo ngusulin menyusup malem-malem?” Naufal mengernyit.

“Iya, itu definisi normalnya. Justru mereka mengira kita akan mempercayai definisi barusan, karena itu kita melakukan sebaliknya.”

Oh? Jadi,dengan kata lain, Odie menyangkal traktat gue? Dia menyangkal permainan kata oleh seniman aksara, Kawan. Ini tak bisa dimaafkan.

”Tapi nggak menutup kemungkinan kalo mereka juga berjaga pas malem ’kan?” Risyad masih ngotot. Ia berdiri dari duduknya, menaruh kepalan tangannya di atas meja.

”Ya. Tapi justru lebih efektif kita menyerang pas malem,” ujar Odie kalem.

”Gue nggak setuju!” seru Risyad. Oh yeah. Gue yakin abis ini bakal ada marah-marahan yang dramatis. Di otak gue Risyad langsung berdiri, memunggungi Odie, lalu berkata, ’Maaf, Odie, it’s over. Gue nggak bisa bertarung di bawah perintah lo,’ sambil menahan tangis.

Lalu Odie balas berkata, misalnya seperti ini, ’Gue tahu, lo pembangkang. Ya, kita udah nggak sejodoh. Pergilah, jangan biarkan ada satupun debu yang menempel di emas! Pergilah, Syad. Jalani takdirmu!’ sembari memberikan sebuah revolver perak.

Lalu, misalnya, Risyad menerima revolver itu dengan haru. Lalu berkata, ’Oh, Odie. Terimakasih banyak. Kelak nanti, bila namaku membesar, aku takkan melupakan jasamu, Odie,’ lalu berjalan mendekati pintu, berbalik sebentar menatap anak-anak, ’selamat tinggal, Kawanku...’

Dan—BLAM.

Pintu ditutup. Risyad pergi. Dramatis.

Tapi bayangan jelas cuma ilusi. Kenyataan tetaplah realita. Odie mengernyitkan alis, tapi seklias, gue liat ada seirngai licik. ”Kalo lo nggak setuju, silahkan pergi, sana. Nggak apa-apa kok, satu personel menghilang.”

”Woi!” Wildan merelai, ”santai!”

”OKE!” Risyad mendecak keras. Sengaja. Tadinya gue mau komentar, tapi gue ga jadi dan memiluh bungkam. Gue nggak mau kena jotos Wildan atau sepakan Risyad. Gue duduk di kursi gue dengan tangan terlipat, mengernyit.

”Gue nggak ikut rencana picik lo, Die! Gue bosen jadi yang kedua!” Risyad menuding Odie.

“Woi, woi, santai!” Riva menahan Risyad yang sudah mengambil sikap yang mengindikasikan bahwa dia mau menghajar Odie. Memberikan bogem mentah ke muka Odie yang menyeringai.

“Udah woi, mendingan selesein dengan kepala dingin!” Gue berteriak, mencoba memberikan usulan. Tapi anak-anak cewek menarik ujugn baju gue, mengintruksikan pada gue agar duduk dan nggak campur tangan.

Risyad mendecih, menyambar satu revolver perak di atas meja. “Gue keluar Die.”

Ia keluar dengan tidak dramatis. Tanpa mengucap salam perpisahan, tanpa cipikia-cipiki, tanpa bmenatap anak-anak untuk terakhir kalinya. Ia menutup pintu, dengan keras.

“ODIE!” Tami menjerit. “LO KOK NGEBIARIN GITU AJA?”

Di luar dugaan, Odie menyeringai. ”Tenang aja, Mi. Semuanya di bawah kendali gue,”

Rasanya gue pengen mukul kepala Odie sekarang juga. Atau nggak menggilasnya dengan buldoser. Anak-anak cowok terlihat sama, mereka berniat menghancurkan seringai Odie. Wildan menggelengkan kepalanya tak habis pikir.

Rencana Odie, nggak ada yang bisa menebak. Maksud gue, siapa sih yang bisa nebak isi otak seorang jenius? 

Selasa, 11 Januari 2011

DreamLand

Bagian tiga: Kebenaran

Rafly mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mengetuk pintu kayu dengan keras dan dalam kadar yang sangat jauh dari kata ‘sopan’. Dengan suara cemprengnya ia berteriak-teriak, “Samlekuuum! Misiiii! Spadaaaa!” Sambil meninju kepalannya ke pintu.

Malam makin larut. Horizon oranye cerah berganti menjadi hitam pekat dengan hiasan kerlip bintang. Sebentuk sabit simetris terukir jauh di angkasa, melayang dengan memancarkan cahaya lembutnya. Sinar keperakan menghujani sepuluh tubuh manusia yang berdiri tegak di depan sebuah pondok kumuh.

“Oiii! Samlekuum!” Dito menambahkan, berteriak-teriak dengan tak kalah cemprengnya.

“Bukain duuund!” tambah Risyad alay.

Odie swt, “Jelas nggak dibukain orang elunya alay dan nggak sopan.” Lanjutnya, “Gini neh, yang sopan dan bermartabat.”

Rafly, Dito dan Risyad yang ada di depan pintu kontan mundur selangkah. Dengan penuh hormat mempersilahkan ketua mereka memperagakan bagaimana manner yang benar dalam bertamu ke pondok seseorang. Andaikata ada karpet merah di sini, mungkin Ryan udah berkicau dengan ributnya menyambut Odie yang dengan elegan mendekati pintu reot dan mengangkat tangannya pelan-pelan.

Yang lain menunggu dengan was-was. Seperti apaklah Odie akan mengetuk pintu?

Dan ternyata—

“WOOOOOI! YANG DI DALEM RUMAH TOLONGIN GUEEEEE! GUE DAN ANAK-ANAK LAIN KEJEBAK DI LUAR GUE MAU NGINEEEEP!”

—Goblok. Sama aja!

“Tulul lu Die!” Wildan menghadiahi Odie satu jitakan penuh ‘cinta’ dan ‘kasih sayang’.

Bahkan Odie mengetuk pintunya lebih binal dari Rafly. Sambil cengengesan ia berkata, ”Kayaknya pemilik rumahnya emang nggak mau nerima anak-anak nggak jelas kayak kita. Jadi mesti gimana?”

”Elunya kurang sopan!” Acem berkilah. Dengan sohibnya sesama Adit ia berangkulan, ”Gue dan Penyok bisa ngasih tahu cara yang tepat dalam bertamu,” katanya misterius. Pandangan heran mengarah kepadanya—dan Adit P.

”Sesuai saran Nadhila,” dia nyebut nama gue, ”cara bertamu yang dramatis!”

Berkonvoilah anak-anak cowok mengelilingi Acem dan Adit P. yang otak mereka udah terkontaminasi pikiran stres gue. Dengan ekspresi misterius dan penuh ambisi, serta tiap keyakinan di tiap kata-katanya, dia pun mendiktekan cara bertamu yang dramatis menurut gue—si penulis stres.

”Begituu!” Adit P. melipat tangannya di depan dada.

”Oooooh!” Koor anak-anak cowok menganggukkan kepala mereka. Sesuai instruksi, yang berlakon atas rencana ini adalah Dito, yang mereka anggap paling tepat memerankan rencana nggak jelas ini.
“Ayo, To! Sekarang!” teriak Aji seperti Dito adalah ibu-ibu hamil yang mau ngelahirin dan disuruh mengejan.

Dito mengangguk canggung. Cowok kecil itu—seperti instruksi—berjalan mendekati pintu dengan langkah terseok-seok. Wajahnya dibuat sesedih dan setolol mungkin—inilah alasan mengapa Dito terpilih.

“Permisi, Tuan...” Dito berucap lirih. “Apakah Tuan mau menampung saya dan beberapa—eh... ternak—eh! Maksudnya teman saya? Oh, Tuan yang baik... bersediakah engkau menampungku dan sembilan teman imbisilku?” tanyanya dengan pilihan kata-kata dramatis.

“Hamba ini orang pengelana yang tersesat di Dreamland yang agung ini... Maukah Tuan menampung teman-teman saya dan saya sendiri? Mereka kasian, tidak makan sepuluh hari! Apalagi Odie yang badannya sudah ringkih...”

Ya, inilah rencananya: Berpura-pura menjadi pengelana yang kehilangan tempat tinggal dan berniat bernaung sebentar di pondok, menggunakan Dito sebagai perantaranya. Silahkan lempari otak gue yang berhasil mengontaminasi otak anak-anak cowok dengan pikirannya yang tidak rasional. Aww! Sakit, Bego! Ngapain lu lemparin gue pake sepeda?

Dito masih berada tepat di depan pintu dengan muka dongo. ”Tuan?”

Tak terdengar sahutan. Anak-anak cowok dongo sendiri. Mereka baru menyadari betapa tidak bergunanya ide dramatis gue yang mengontaminasi otak Acem dan Aidt P. yang tak berdosa. Riva mendecak keras. ”Udeh ah! Nggak ada gunanya kalo kita berdramatis begini, langsung pake kekerasaaaan!” Dengan badan atletisnya (sumpah, gue nggak tau atletis beneran apa kagak) dia menerjang pintu reot bak seorang prajurit di lautan perang.

For Narniaaaa!” teriak Wildan nggak nyambung. Dengan tangan terkepal bak memegang parang ia berlari sekuat tenaga, bermaksud mendobrak pintu ketidakadilan yang terdapat di depan matanya kini. Gue baru tau Wildan suka juga sama Narnia. Kenia dan Mayang bakal dapet temen, nih.

”TUNGGUUU, GU, GU, GU, GU!” jerit seseorang menggema. Teriakan tersebut segera menghentikan gerakan anak-anak cowok yang dengan binal berniat mendobrak pintu. Seorang laki-laki dengan jubah dan keranjang di tangannya berlari tergesa-gesa mendekati gerombolan imbisil yang berkumpul di depan pondoknya.

Wildan menoleh dengan slow motion. Mendramatisir suasana. Ah, melihat cowok yang sedang berlari-lari ke arahnya sungguh menyejukkan hati. Bagai lautan pembuluh darah yang berpasir ini telah disiram oleh hujan yang menyuburkan tanaman. Bagai ada sejumput oase di tengah gersangnya pasir hati. Oh, alangkah indahnya asmara.

Kalau ini film India, gue bakal buat Wildan dan anak-cowok-nggak-jelas-yang-lagi-lari-lari saling menyongsong masing-masing. Berpelukan lalu menari-nari di tengah tumpukan bunga bangkai, sambil flirting di antara tiang besar.

Sayangnya, ini Dreamland.

”Maaf, tolong jangan hancurkan pondok saya!” kata anak cowok itu setelah sampai di dekat anak-anak cowok, ”saya janji akan bayar tagihan bulan depan!”

Entah kenapa, semua ini jadi makin tidak nyambung.

”Eng.. sebenarnya...” Aji melirik-lirik Odie dan beberapa anak lain, minta tolong.

”Kita mau nginep, boleh?”

.

Pemilik pondok ini bernama Christoper Clavell. Christoper, yang minta dipanggil Chris, memilki nama keluarga yang sama dengan Xander. Hal itu yang menyebabkan anak-anak cowok sedikit waspada dengan Chris. Untungnya, Christoper meluruskan kewas-wasan itu. Ia dengan sangat baik hatinya mempersilahkan anak-anak cowok untuk menginap dan menyediakan mereka makanan.

”Jadi? Lo ini sebenernya orang yang seharusnya menduduki tempat Xander sekarang?” Naufal menyimpulkan, menyeruput cokelat panasnya.

Christoper menjelaskan tadi, bahwa ia sesungguhnya adalah orang yang seharusnya menduduki takhta kerajaan Dreamland yang kini ditempati Xander. Chris dan Xander kakak-beradik, di mana Chris selaku adik lebih dewasa dan rasional di vanding Xander yang kekananakan dan over-emotional. Memang, Chris nggak ganteng-ganteng amat bila dibandingkan dengan Xander. Tapi paling nggak, dia nggak homo.

”Iya,” kata Chris. Menaruh segelas cokelat panas lagi di atas meja pondoknya.

Chris juga cerita, sejak sang Ayah yang dulu merupakan pemimpin Dreamland, meninggal, dia dinobatkan menjadi raja selanjutnya—ditilik dari kedewasaan dan kewibawaannya. Xander sang kakak jelas nggak terima. Dia memanggil Dream Eater, sekelompok manusia yang bisa memusnahkan mimpi-mimpi manusia dan membuatnya tenggelam dalam keputusasaan. Lalu Xander menggulingkan kepemimpinan yang dibangun Chris, serta merebut takhta.

”Selain itu, Xander juga berniat menghancurkan Dreamland.” Lanjut Christoper, ”Dia benci pemimpi dan mimpi. Karena itu, dia memanggil Dream Eater untuk mengahancurkan Dreamland." Christoper berhenti sebentar, menatap anak-anak cowok satu persatu.

"Hingga muncul suatu rumor, bahwa akan ada sekelompok manusia dari dunia nyata yang bisa menyelamatkan Dreamland dengan menggulingkan Xander serta mengalahkan Dream Eater," katanya. Mata biru Aquamarine-nya dapat melihat penasaran yang tergambar dengan jelas di wajah anak-anak cowok.

"Mereka disebut knights," Christoper melanjutkan, "prajurit pemberani yang bisa mengalahkan Xander beserta konco-konconya, dengan kekauatn ambisi serta mimpi mereka."

"Apa mereka udah ada?" tanya Wildan tegang, "di sini?”

”Tentu saja,” Christoper tersenyum, ”mereka adalah kalian, kelas 6B, penghuni apartemen putih. Knights.”

Tak ada yang sanggup berkata-kata.

.

Gue nggak bisa tidur.

Maksud gue, gimana gue bisa tidur? Gue merasa aura nggak enak sedari tadi. Pas Xander masuk ke kamar yang gue tempatin bersama Karin dan Salma. Memanggil dua cewek itu, karena gue pura-pura tidur. Gue ngerasa firasat nggak enak. Pengen rasanya menghambur ke kamar sebelah, bangunin Tami atau Adini, atau sekedar ngajak Gaby nemenin gue tidur.

Iya, gue emang ganteng. Tapi inget, gue nggak lesbi.

Gue makin resah. Perasaan gue bener-bener nggak enak. Selimut hangat yang harusnya bisa melindungi gue dari dinginnya suhu di luar sana menjadi sangat panas bagi gue. Keringat dingin mulai mengucur, sementara sudah setengah jam lebih Xander manggil Karin dan Salma. Mereka belum balik.

”Persetan!” Gue mendecak, menendang selimut.

Sebenernya, Xander ngelarang gue untuk menengok Karin dan Salma—yang dia bilang ada di perpustakaan, yang termasuk juga ruangan hobi. Gue berlari menyusuri koridor panjang yang gelap. Gue tahu, gue nggak bisa mainin pedang. Tapi paling nggak, gue tahu gunanya pedang untuk apa. Membunuh. Mengiris.

Jadi gue memutuskan mengambil sebilah pedang yang ada di patung ksatria.

Oh yeah. Gue emang psikopat.

Sebelumnya gue nyoba make tuh pedang buat nusuk seekor tikus yang lewat tepat di deket kaki gue. Mati dengan mengenaskan.

Ruang perpustakaan ada di depan gue. Gue mendorong pintu, dan di situlah Karin dan Salma. Memunggungi gue.

“Sal..? Karin..?” Gue manggil mereka berdua pelan-pelan. Berjingkat-jingkat dan memegang pedang erat-erat. Gue ngerasa... seperti pertumpahan darah akan terjadi dalam waktu dekat.

“Nad...,” Karin menoleh, “nggak ada gunanya kita bermimpi. Mimpi cuma tipuan untuk orang nggak berguna dan nggak berdaya seperti kita,” katanya pesimis.

”Maksud lo?” tanya gue nggak mengerti, ”bukannya lo yang selalu mau jadi pelukis? Lo kan yang mau mewujudkan mimpi lo itu?”

”Percuma Nad!” Salma berteriak, ”percuma aja! Gue nggak akan bisa jadi model—itu cuma mimpi!”

“Apaan yang percuma?! Badan lo bagus, Sal! Lo cantik! Ini lagi, Karin. Lu tau kan mimpi kita terwujud—yang diperlihatkan Xander tempo lalu?”

“Itu ILUSI Nad!” teriak Karin, frutasi. Menginjak-injak kanvas tepat di depan dia. ”Nggak mungkin mimpi kita terwujud. Kita orang yang nggak berdaya. Kita bahkan nggak punya bonyok! Gimana kita bisa mewujudkan mimpi kita?”

”SADAR NAD! SADAR POSISI!” tambah Salma.

”LO YANG SADAR! KITA EMANG NGGAK BERDAYA! DAN JUSTRU MIMPI KITA ITU BERGUNA UNTUK KETIDAKBERDAYAAN ITU!” gue bales neriakin mereka. Sepertinya ada sesuatu yang aneh sama mereka. Seperti mimpi mereka telah hilang dicuri orang—

Satu nama melayang-layang di otak gue: Drexander Clavell.

”Xander! Apa yang Xander lakuin sama kalian?” tanya gue.

I’ve done nothing, Your Highness.” Gue menoleh, mendapati Xander mendekati gue dengan pakaian tidurnya yang berwarna merah. Memuakkan. Xander mendekati gue dengan tangan terlipat di belakang. ”Hanya menghilangkan mimpi-mimpi mereka.”

”XANDER!” teriak gue, menghunuskan pedang gue.

Lalu dia tersenyum licik. ”Selanjutnya, kau pun akan sama, knights.”

Gue jujur bingung kenapa dia manggil gue knights. Tapi sebodo amat. Gue lebih mentingin nemuin makna intrisik kata-katanya. Gue segera menoleh, ada beberapa orang berpakaian serba hitam mendekat ke arah gue.

Setelah itu, gelap.

I can’t see anything. Termasuk mimpi gue, menjadi seorang penulis.

Ketika itu, gue mendengar suara gemuruh yang cempreng. Gue nggak bisa mendefinisikan dengan jelas, tapi gue ngerasa, gue masih bisa melihat mimpi gue, walaupun samar.

Sedetik kemudian kesadaran tercabut paksa dari tubuh gue.

about me!

Foto saya
Insane. Inappropriate. (cool) Bookworm. Virtuoso. Clumsy. Daredevil | Good Sense of Humor. Friendly. Computer Whiz.