Pengikut

Kamis, 06 Januari 2011

DreamLand


Bagian Satu: Apartemen Putih

Gue gedor-gedor pintu kamar mandi. “MAAAAY! LO LAMA BANGET PARAAAH BURUAAAN!” Gue teriak melebihi suara kencangnya TOA. Tangan gue tetap aktif menggedor-gedor pintu kamar mandi yang terbuat dari plastik. Dari dalam, terdengar siulan tak peduli dari Mayang, sesekal diselingi bunyi debur air.

Mayang terlihat tak peduli. Ia bersiul-siul seenak udelnya, membuat gue yang kebelet keki. “OOIIII!” jerit gue, persis cewek disetrum.

“Hm?” Mayang nyahut dari dalam kamar mandi, suaranya bergaung. ”Apaan?”

Gue makin keki, ”Oi, Lo nggak denger gue teriak dari tadi apa? BURUAN!”

”Buruan apanya?” tanya Mayang. Dari dalam terdengar bunyi keran yang dibuka dan air yang mengucur deras. Terdengar bunyi berisik saat Mayang menggosok giginya.

”Lo mandi KAYAK PUTRI SOLO YA?! Buruan! GUE KEBELET!” teriak gue.

Lima menit kemduian, ia keluar dengan rambut basah. Matanya yang menyipit jika tak mengenakan kacamata menatap gue. Kulit kecoklatannya basah oleh bulir air. ”Tuh, pake,” katanya, kalem.

Gue memberikan death glare ada dia, sebelum akhirnya nyrusuk ke kamar mandi. Menuntaskan tugas mulia bagi perut gue.

.

Oh, hai yang di sana! Sori pembukanya nggak enak begini. Salahin aja tuh Mayang yang mandi kayak ngeram telor! Nah, nama gue Nadhila Putri. Nama yang sangat Indonesia? Ya, benar. Gue emang berasal dari daerah tropis itu. Muka gue emang Indonesia banget. Dan jangan salah; gue ganteng.

Iya, kalian nggak salah baca. Gue ganteng.

Kalian protes, cewek kayak gue dijudge ganteng?

Mau gimana lagi? Muka gue emang ganteng. Dari sudut manapun, ngga ada sudut yang mengindikasikan bahwa gue itu cantik. Rambut gue pendek, kulit gue nggak sehalus dan seputih Yola atau Mevya. Dan lagi; gue sama sekali nggak manis!

Oh, dan satu hal penting lain, gue ini anak broken home.

Kalian kaget? Gue udah nyangka. Gue tahu-tahu SKD ngasih tahu kalo gue ini anak broken home.

Gue nggak menghuni rumah biasa. Umur gue baru 14 tahun, mana bisa gue membeli rumah? Gue tinggal di apartemen, yang biasa disebut orang Apartemen Putih.

Apartemen Putih ini sendiri, sesungguhnya bukanlah apartemen seperti pada umumnya. Bangunannya mungil, hanya muat paling banyak 50 orang di kamar terpisah. Apartemen Putih juga nggak bisa dihuni orang kebanyakan; hanya anak-anak korban broken home-lah yang berhak dinanungi Aprtemen Putih.

Baik gue maupun 17 anak kain yang menghuni Apartemen Putih, semuanyalah adalah korban broken home. Ketidakharmonisan keadaan di rumah mereka-lah yang mendorong mereka untuk kabur dari dari masalah pelik mereka, dan ditampugn di sini hingga dewasa dan mampu hidup sendiri. Orang super-baik yang berada di balik apartemen ini adalah Pak Asep. Dia seorang pensiunan guru di universitas islam ternama di Indonesia.

Gue sendiri kabur dari rumah karena konflik pelik yang melanglang buana di rumah gue. Dimulai dari pertengkaran ayah dan ibu gue, sampai kakak gue yang meninggal karena overdosis narkoba.

Hei, apa gue terlalu banyak cerita tentang diri gue?

Too much information.

Apartemen Putih seolah segenang oase di tengah gurun pasir masalah kami. Dia hadir, memberikan kehangatan dan kesejukan untuk hati anak-anak yang resah. Di sini, kami dididik untuk hidup mandiri dan melakukan segala macam pekerjaan rumah, karena tak ada pembantu di apartemen ini. Selain itu, kami juga diberi perlajaran tentang bermimpi. Tentang bagaimana caranya membuang pesimisme dan menjadikannya optimisme.

Saat gue memutuskan kabur dari rumah, gue sempet kehilangan semangat untuk bermimpi. Padahal, gue memiliki saty ambisi sepanjang hidup gue: menjadi penulis. Setelah gue tinggal di Apartemen Putih, perlahan penghuni lama lainnya membangun pribadi gue. Mengajarkan gue untuk tetap bermimpi, walaupun nggak ada lagi jalan yang bsia tebruka untuk mewujudkan mimpi kita itu. Tapi kita optimis, kita nggak pernah menyerah. Kita hidup untuk bermimpi, dan bermimpi agar bsia tetap hidup.

Di samping bermimpi menjadi soerang penulis, gue bermimpi menyatukan kembali keluarga gue.

.

“Yooo!” Kenia teriak tepat di telinga gue ketika gue bengong di depan komputer besama. Disebut komputer bersama, karena yang memakainya seluruh penghuni Apartemen Putih.

Kenia juga anak broken home. Orangtuanya dulu bercerai karena dia dan kakaknya memilih jalan hidup yang jauh berbeda dari yang digariskan orangtuanya. Dia paling jago olahraga di antara sebelas cewek yang menghuni Apartemen Putih. ”Misi lu! Giliran gue buat ngotak-ngatik oldy compyuta!” Oldy Compyuta adalah julukan yang diberikan Odie seenak udelnya.

Gue memoyongkan bibir. ”Bentar. Tulisan blog gue udah mau selesai,”

”HEH! Nggak bisa, sekarang giliran gue!” Kenia nendang pantat gue, membuat gue jatoh dari kursi. Yah, Ahli IT ini memang paling agresif kalo soal komputer; pacarnya dia itu! Sama emonya seperti Karin yang sangat serius saat berkutat dengan lukisan-lukisannya. Kenia bener-bener bermimpi untuk menjadi ahli IT. Karin berambisi menjadi seorang pelukis handal.

Gue ngusep-ngusep pantat gue yang sakit kejeduk lantai marmer.

”Di-save ya! Itu tulisan terdramatis yang pernah gue buat!” kata gue sambil nyengir. Gue meninggalkan Kenia yang sibuk dengan her own world. Kenia nengok ke gue sambil tetep ngetik. Kayaknya dia udah hapal urutan huruf di keyboard.

"Sip!" kata dia.

Gue memicingkan mata dan menaikkan kacamata gue.

.

Gue jalan ke dapur. Gue laper, mau makan. Dengan bahan yang ada, gue pun membuat membuat mie rebus dengan microwave. Iya, kemampuan masak gue emang sangat bagus, saking bagusnya gue nggak bsia bedain mana kunyit mana lengkuas. Satu-satunya orang yang kemampuan masaknya di atas rata-rata adalah Mayang Ariesa, yang gue demen manggil dia May.

May ada di dapur ketika gue masuk. Dia lagi masak stu surpise. Seperti mayoritas anak lainnya, dia broken home. Kabur dari rumah seperti gue, karena orangtuanya yang sering berantem dan terintimdasi oleh kelakukan tiga kakaknya yang terlampau tua dari dia. May berbadan sekal. Beda sama gue yang langsing.

"Yo, Nad!" Dia nyapa gue ramah. Celemek masak melingkar di pinggangnya. Ia sibuk mengolah bahan-bahan. “Mau nitip makanan?”

Kebetulan. Gue lagi pengen makan makanan yang enak.

”Mau! I order... one Mac and Cheese please?” kata gue sopan, menjentikkan jari gue. May tertawa kecil. Sikap dia nyolot dan serampangan. Benci ketidakbebasan. Mayang senyum sama gue, dan berkutat lagi dengan ‘pacar’nya. Gue meninggalkan dia dengan membayangkan rasa lezat di makanan buatan dia.

“Gue ke ruang keluarga,” pesan gue kepada dia, agar dianterin ke ruang keluarga. Ya, dia emang koki merangkap pembantu di Apartemen ini. HAHAHAHA.

Ruang keluarga sesak oleh anak-anak cowok yang teriak rusuh nonton bola. Liverpool melawan Arsenal, gue dukung Liverpoool sepenuh hati gue. Odie, Wildan, Aji, dan Riva ada di pihak gue, sementara Naufal, Dito, Rafly, Risyad, Adit CM dan Adit P. berada di titik yang berlawanan dengan konco-konco gue.

“GOOOOOOOLLLL!” Gue nari-nari ala Irfan Bachdim nan unyu pas ngegolin gawang Malaysia di depan tipi.

Gue tos sama konco-konco gue yang semuanya adalah anak broken home. Berbeda dengan Dito, Dito mempunyai kelainan yang menyebabkan dia bersikap sangat hiperbolis. Otaknya sedikit miring, dan dia tak diterima di keluarganya. Orangtuanya sendiri yang yang menyerahkan Dito ketika ia masih bayi tanpa ekspresi pada Pak Asep. Kasihan. Gue menatap Dito yang bengong dengan tatapan iba.

Di sudut lain, gue ngeliat Tami, Adini, Yola, Mevya, Salma, Gaby dan Celsi sedang bercengkrama dengan hebohnya. Sementara Karin dengan seriusnya mengerjakan lukisan pemandangan terbarunya. Gue nggak berniat gangguin Karin, entar nasib kacamata gue sama dengan waktu itu: patah dua bagian.

Jadi gue mutusin buat nge-JB sama Tami dan konco-konconya.

“Hei,” sapa gue gahoel dan imut, “lagi pada ngomongin apa niicccch?” tanya gue nge-alay.

Adini bergidik ngeliat gue, “Nadh, sadar.”

“Nggak,” Tami senyum. Dia paling bulet di antara anak-anak cewek di sini. Paling pinter tapi paling kekanakan. “Lagi ngomongin mimpi kita aja,”

”Asik-asik.” Lagi-lagi gue sok imut. Duduk bersila di antara mereka. Tami bukan anak broken home. Ia hanya dititipkan untuk dididik mandiri karena terlalu manja. ”Ikut ye?” kata gue tanpa meminta konfirmasi.

Gue lalu mulai berkicau, ”Mimpi gue menjadi seorang penulis! Gue pengen nulis tentang keluarga, memberitahu pada dunia gimana kehidupan yang berpusat pada mimpi. Dan bagaimana caranya keluar dari pesimisme saat nggak ada harapan! Gue pengen hidup penuh tantangan, mencari saripati idup! Gue mau mendaki puncak tantangan, menggoda mara bahaya! Gue mau menjadi tokoh utrama di sebuah penyelamatam sebuah bangsa, gue mau—”

Gue berhenti karena nafas gue abis. Gue berucap lebih dari lima puluh kata dalam dua puluh detik.

Tami terkekeh ngeliat gue. Yola melanjutkan dengan singkat, ”Gue mau jadi doketr hewan.”

”Gue model!” Salma memamerkan senyum cantiknya.

”Gue bussiness woman!” Adini bersedekap penuh keyakinan.

“Gue... pramugari,” kata Mevya setelah semenit berpikir.

“Gue ngikut lo deh. I’m your big fans!” Gaby mendekat ke arah gue, gue nyengir canggung.

“Gue IT!” seru Tami, menunjuk Kenia dan masuk ke ruang keluarga dengan senampan hot chocolate.

Celsi tersenyum dengan lebaynya, “Gue—“

”MAC AND CHEESE!”

”GOOPY CARBONARA!”

”HOMMADE STEAK!”

”STU SURPISE!”

”AUTUMN SALAD!”

”FRENCH TOAST!”

”SPAGHETTI!”

”ANCHOVY SUSHI!”

Bersahut-sahutan gue nyebutin nama makanan yang dimasak Mayang. Gue menyambar sepiring Mac and Cheese, mengabaikan Celsi yang membatu di tempat karena dikacangin. Beirkutnya, kita semua asik makan di depan tipi.

”Ngomong-ngomong lo barusan pada ngomongin soal impian ya?” tanya Mayang, seraya menyendok Stu Surprise-nya. “Gue pengen jadi koki,”

”Gue IT!” seru Kenia, bertos ria denganTami.

Karin menaruh piring saladnya. “Gue mau jadi pelukis!” katanya sambil berlari ke kanvas tempat lukisannya berada.

”Gue—”

Kasihan Celsi. Saat ia mau memproklamirkan impiannya, lagi-lagi ia disela oleh teriakan Karin. Cewek lebay yang alay memang selalu nggak dapat tempat ya?

"Selesaaai!" seru Karin seraya mundur selangkah, mengagumi hasil pekerjaannya.

"Queitly beautiful," puji Mayang sambil mengangkat satu jempolnya. Ia baru selesai menyantap makanannya, Pak Asep terkekeh melihat gambar Karin. Nampaknya ia pun menyukai gambar penuh wrana terang itu. "Kok quietly?" Karin memonyongkan bibirnya, pura-pura cemberut.

"Iya deh, bagus!" kata gue akhirnya, "iya deh, yang mau jadi pelukis!"

Dito bertepuk tangan gembira ria. Ia memamerkan cengiran khasnya, lebar, memperlihatkan deretan giginya yang kuning panjang-panjang. Iya lah, Dito 'kan ngefans sama Karin, jelas aja dia membanggakan idolanya itu. Lewat dua bola matanya, ia memandangi lukisan Karin seksama. Komposisi gambarnya seimbang, dengan teknik arsir dan goresan yang deep banget.

Memang hanya digambarkan sebagai kumpulan cat warna, tapi jika ditilik dengan baik, gamabr itu seolah hidup. Seakan berubah menjadi tiga dimensi... dan bergerak!

HE? BERGERAAAK?

"B-B-B-BER-GE-GERAAAAK!"

Dito menjerit lepas.

"Apaan yang gerak deh, To?" tanya Kenia sweatdrop. Dito kembali menjerit, "Kupu-kupunya!!"

Semua bertukar pandang dan menghela nafas. Mereka maklum, Dito memang memiliki kelainan ’istimewa’.

’Dito emang nggak waras,’

Akhirnya yang lain ngacangin Dito yang teriak-teriak gaje bahwa luksian itu gerak. Dia baru diem setelah digetok Wildan pake obeng. Karin mencibir, melukis di kanvas lain. Gue cuek dan mencuci piring. Ya, cuma kemampuan cewek inilah satu-satunya yang gue kuasai.

Menambah keruh suasana, Mayang tiba-tiba berbicara, "Dito mungkin mulai waras." Semua kepala menoleh, gue suka yang dramatis begini.

"Ha?" seru anak-anak.

"Lukisan itu memang gerak,” kata Mayang penuh keyakinan. Ia menunjuk lukisan Karin.

Gue mengangkat alis, melepas celemek cuci piring yang melingkar di pinggang gue. "Mungkin malah lo yang nggak waras, May,"

Mayang menggeram, "KAGAK! LIAT BAIK-BAIK! MATA LO PICEK YE?!"

Dito mengangguk-angguk setuju. Odie berpandangan dengan Wildan, kemudian maju selangkah, menyentuh lukisan Karin dengan jemarinya yang ramping. Catnya baru selesai dipoles semenit tadi, dan anehnya telah kering. Kedua matanya memperhatikan dengan seksama hasta karya Karin, sementara Karin sendiri hanya bisa mematung di tempat. "Nadh, kayaknya minus lu emang nambah," kata Odie.

Gue menaikan alis, "Ha?"

"Lukisannya emang gerak," kata Odie, ia menambahkan demi penekanan yang dramatis, "gerak."

"SEE!" seru Mayang, "gue, sama Dito emang ga gila! Denger, si master of MTK aja bilang tuh lukisan gerak!" Mayang maju ke dekat lukisan itu. Didorongnya Odie menubruk lukisan. Ya, kadang ia sama lebaynya dengan Celsi.

"Anjrit!" umpat Odie, ketika tubuhnya menghantam sukses kayu yang menjadi tumpuan kanvas Karin. Detik selanjutnya, terjadi begitu cepat. Tubuh kecil itu, seperti terhisap, masuk ke kanvas Karin, lalu lenyap. Sama sekali hialng. Tak ada suara, hening seketika.

"AAAAAAHHHH ODIE MASSSUKKKKKK!" Tami jejeritan.

Ia guling-guling di lantai, nggak jelas. Yang lain swt. Wildan, dengan muka sok tenanagnya yang bikin muak, berkata, "Odie masuk."

Kayaknya gue juga tahu itu deh. Gue berjalan mendekat, merapikan rambut gue yang acak-acakan.

"Lo membuat sesuatu hal paling ga logis, Kar.” Kenia menggelengkan kepalanya syok, "kita harus nemuin Odie."

"Ck, bawa masalahnya aja tuh item," umpat Salma.

"Gue-gue nggak tau!" teriak Karin. Wajahnya pucat pasi. Ia bahkan tak tahu, ada kekuatan magis apa yang terjadi dengan cat akriliknya. Mayang membatu di tempat. Wildan angkat bicara selaku yang paling senior, "Kita harus ikutin dia," katanya, "sekarang!" Dan nyeruduk masuk ke kanvas Karin. Tubuhnya hilang di belakang kanvas, sementara Karin membatu dengan mata membola.

Well, entah kenapa gue ngerasa adrenalin gue terpacu. Rasanya di balik kanvas in petualangan yang gue impikan menunggu.

"I'm coming, dear!" teriak gue dan berlari persis seperti Wildan. Masuk lagi ke kanvas, dan hilang lagi di dalam kanvas.

"Wew, lu denger kata Nadhila? 'Im coming dear' buat siapa noh? Odie apa Wildan?" Gue masih bisa ngendenger Adini ngakak-ngakak.

"Bacot. Gua jb ah. dah~ heh! Semua nyusul! Gua kepala suku ye! Kalo kagak nyusul keluar dari 6B! dah~" Dan ia pun masuk mengikuti Odie, Wildan dan Nadhila.

Oh iya, 6B itu nama kelas kita yang dipake buat belajar. Kita emang kelas enam di umur yang relatif berbeda.

Oh yeah. Seharusnya mereka tahu. 'Dear' yang dimaksud gue di sini bukan Odie ataupun Wildan. Gue memang dramatis, suka memanggil siapapun dengan 'dear', cewek sekalipun. Berpandangan sambil mengisyaratkan heran, mereka pun meloncat masuk ke kanvas.

Dan menghilang.

Tik. Tik. Tik.

Dengar, waktu berhenti.

BRUK!

"Aww!! Siapa nih yang nindih gue! Ebuset! Pli! Bangun Pli! Lu kecil tapi badan lu berat ye!" bentak Aji sewot.

“Iye bentar!" balas Rafli.

 "Aduh! Lengan gue leceeeeeeeeeeeet!!" teriak salma histeris.

"Ah! lebe lo Sal!" tanggap Mevya, sinis.

"Yaudah sih~" balas Salma sewot.

"DIEM SEMUA!" teriak kenia menggelegar.

“Ape?" sahut Adit P. Ada dua Adit di sini, Adit CM dan Adit P.

"Liat deh! Kita dimana ini?!" tanya kenia

Sementara itu, gue ngeliat Mayang dan Wildan udah kejar-kejaran gaje di depan kita. Gue cengok ngeliat sekeliling. Kita seperti ada di dalam lukisan Karin, dan ini versi pelebarannya. Dataran hijau yang asri menghampar luas di jauh ke depan. Gue cengok ngeliat sungai berair jernih yang nggak pernah gue temuin sebelumnya. Hoeizon biru luas membentang, suara decit burung elang memecahkan suasana.

Sementara Odie, Mayang dan Wildan sudah berada jauh di depan kita, Dito menghabiskan waktu yang tersisa untuk jejeritan. Adini memandang ke sekeliling. Berbagai satwa ada di depan kita. Mereka liar, namun jinak dan tak galak. Yola memekik kegiarangan, tangannya memeluk gemas sepasang kelinci berbulu coklat. "Lucuuuuu!"

Adini menjerit, "INI PERSIS KAYAK LINGKUNGAN YANG GUA IMPIIN SELAMA INI!!"

”He?" Anak-anak menatapnya heran.

"IYA!" angguk Adini antusias, "hutan yang asri dengan udara segar! Beda banget ’kan sama dunia kita selama ini, yang penuh polusi?"

"WOOIII!" lambai Odie, mencorongkan tangannya di depan mulut. "Ke sini oi!"

Kenia tergopoh-gopoh lari menghampirinya. "Lo tau ini di mana?" tanyanya terengah-engah.

Odie mengangguk tak yakin, "Semacam dunai fantasi di Indosiar." Jawaban Odie sukses membuat Kenia swt. Ya Odie memang teracuni film silat Indosiar.

Anak-anak yang lain lari menyongsongnya, dengan Yola dan Mevya yang masing-masing memegang sepasang kelinci cokelat. "Cute~!" kata mereka norak.

"Dunia fantasi Indosiar apenye?" teriak suara dari atas. Semua anak mendongak. Gue negliat Mayang dan Gaby nangkring di atas dahan pohon ceri berdaun merah jambu. “Ini persis yang kayak gue impiin! Gue pengen masuk ke dunia gabungan Narnia dan Harpot!” teriak Mayang antusias.

Gue ngakak.

"Welcome to Dreamland, Knights." Sebuah suara mengangetkan mereka. Seorang lelaki berpakaian kerajaan mendekat ke arah mereka. Wajahnya tampan dan berwibawa. Rambutnya kecoklatan, iris birunya sedalam dan seteduh laut. Cih, cowok bishie gini. Gue nggak kepincut!

"Dreamland?" Anak-anak membeo.

"Yes. This is Dreamland," katanya, "Your Highness, welcome to Dreamland. My pleasure to greet all of you," lanjutnya elegan.

Gue mau ngakak ngeliat kesopanan nih orang. Cowok bishie ini. Dia membungkuk ala butler di depan Yola dan mengecup punggung tangannya.

Nah, Yola gampang banget sih kepincut cowok! Muka Yola semerah kepiting rebus.

Sementara itu, sosok ganteng berwibawa itu tersenyum. "Ya, benar. Ini Dreamland, berbeda dengan-apa itu? Indosiar?" katanya sambil terkekeh. Odie nyengir kuda.

"Btw, lu siapa?" tanya Kenia acuh. Nampaknya hanya dia—dan gue—yang tidak terpukau atas ketampanan cowok ini. Sementara anak-anak cewek kepincut sama kegantengan dia, anak-anak cowok iri sama ketampanan dia.

"Please Welcome," katanya, "I'm Drexander Clavell, prince of Dreamland."

2 komentar:

about me!

Foto saya
Insane. Inappropriate. (cool) Bookworm. Virtuoso. Clumsy. Daredevil | Good Sense of Humor. Friendly. Computer Whiz.